Sendi Terasa Nyeri dan Kaku? Ketahui Apa Itu Diagnosis Osteoarthritis

YOGYAKARTA – Osteoarthritis merupakan salah satu penyakit degeneratif sendi, terutama pada usia lanjut. Kondisi ini ditandai dengan kerusakan pada tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan di antara tulang.
Seiring bertambahnya usia, tulang rawan akan kehilangan elastisitasnya, sehingga gesekan antartulang semakin sering terjadi. Hal inilah yang kemudian menyebabkan peradangan, nyeri, serta keterbatasan gerak pada sendi.
Penyakit ini bisa menyerang berbagai persendian tubuh, namun kasus terbanyak ditemukan pada jari tangan, lutut, pinggul, serta tulang punggung. Gejalanya berkembang perlahan dari waktu ke waktu, mulai dari nyeri ringan hingga berujung pada keterbatasan aktivitas sehari-hari.
Karena itu, sangat penting mengetahui apa itu diagnosis osteoarthritis agar penderita bisa mendapatkan penanganan dini sebelum kerusakan sendi semakin parah.
Diagnosis Osteoarthritis
Apa itu diagnosis osteoarthritis? Diagnosis osteoarthritis biasanya diawali dengan mengidentifikasi gejala khas yang dialami pasien. Tiga gejala utama atau trias osteoarthritis meliputi nyeri sendi, kekakuan (stiffness), serta keterbatasan pergerakan (range of motion/ROM).
Nyeri pada osteoarthritis umumnya terasa dalam, bersifat difus, progresif, serta makin parah saat digunakan beraktivitas. Pada tahap awal, rasa nyeri mungkin masih bisa berkurang dengan obat pereda nyeri, tetapi seiring progres penyakitnya, nyeri menjadi lebih persisten.
Kekakuan sendi juga menjadi tanda khas osteoarthritis, biasanya dialami di pagi hari (morning stiffness) atau setelah sendi tidak digunakan dalam waktu lama. Penderita juga sering mengeluhkan kesulitan menggerakkan sendi, bahkan aktivitas sederhana seperti naik tangga, menggenggam benda, atau berjalan jauh menjadi menantang.
Terkait risiko osteoarthritis, tidak semua orang memiliki risiko yang sama. Faktor usia menjadi penyebab utama, di mana semakin tua seseorang, makin besar kemungkinan terjadinya kerusakan tulang rawan.
Selain itu, obesitas memberi tekanan berlebih pada sendi penopang tubuh seperti lutut dan pinggul. Riwayat keluarga dengan osteoarthritis juga meningkatkan kecenderungan seseorang untuk mengalaminya.
Tidak hanya itu, riwayat cedera sendi, kelainan bawaan, hingga penyakit lain seperti rheumatoid arthritis atau hemokromatosis juga turut memperbesar risiko osteoarthritis. Bahkan, pekerjaan yang melibatkan gerakan repetitif atau tekanan berlebih pada sendi juga dapat memicu kerusakan sendi lebih cepat.
Selanjutnya, setelah anamnesis atau wawancara medis mengenai keluhan pasien, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada sendi yang bermasalah. Beberapa tanda yang umum ditemukan antara lain pembesaran tulang, nyeri tekan, keterbatasan gerak, hingga adanya krepitasi.
Pada kasus osteoarthritis tangan, sering terlihat nodus Heberden (pembengkakan sendi DIP), nodus Bouchard (pembengkakan sendi PIP), serta perubahan bentuk pangkal ibu jari. Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan radiologi seperti rontgen menjadi standar utama.
Ciri khas yang tampak pada rontgen meliputi penyempitan ruang sendi, terbentuknya osteofit (taji tulang), sklerosis subkondral, serta munculnya kista tulang. Pada kasus tertentu, MRI dapat digunakan untuk melihat kerusakan tulang rawan, meniskus, tendon, maupun otot di sekitar sendi.
Diagnosis osteoarthritis juga mengacu pada kriteria yang telah ditetapkan lembaga medis, seperti American College of Rheumatology (ACR) dan European League Against Rheumatism (EULAR). Kriteria ini meliputi kombinasi gejala klinis, usia, hasil pemeriksaan radiologi, serta tes laboratorium.
Pada osteoarthritis tangan, diagnosis ditegakkan bila terdapat nyeri atau kaku pada tangan disertai pembesaran jaringan pada beberapa sendi khas, meskipun biasanya tidak melibatkan sendi MCP (metakarpofalangeal). Sementara untuk osteoarthritis panggul, diagnosis dapat dipastikan bila terdapat nyeri pinggul, keterbatasan rotasi internal, penyempitan celah sendi, atau ditemukannya osteofit pada radiologi.
Selain itu perlu juga dilakukan diagnosis banding untuk membedakan osteoarthritis dengan penyakit sendi lain yang memiliki gejala mirip, misalnya gout dan rheumatoid.
Gout ditandai dengan serangan nyeri mendadak, kemerahan, hangat pada sendi, serta kadar asam urat tinggi. Sementara rheumatoid arthritis memiliki gejala sistemik seperti demam, kelelahan, dan penurunan berat badan, serta biasanya menunjukkan rheumatoid factor positif.
Terakhir pemeriksaan laboratorium. Meskipun tidak digunakan sebagai penentu utama, pemeriksaan laboratorium tetap memiliki peran penting. Misalnya, tes darah dapat membantu memperjelas atau membedakan osteoarthritis dengan rheumatoid arthritis maupun infeksi sendi.
