Kasus Osteoarthritis Meningkat, Gangguan Sendi Mulai Ancam Mobilitas Lansia
Kasus Osteoarthritis Meningkat, Gangguan Sendi Mulai Ancam Mobilitas Lansia
JAKARTA – Meningkatnya kasus gangguan sendi seperti osteoarthritis dan cedera muskuloskeletal mulai menjadi perhatian di Indonesia. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kemampuan bergerak masyarakat, terutama kelompok lanjut usia.
Data World Health Organization (WHO) mencatat osteoarthritis menjadi salah satu penyebab utama disabilitas pada populasi lansia secara global. Di Indonesia, penyakit ini diperkirakan menyerang sekitar 30 persen penduduk berusia di atas 65 tahun.
Lutut dan panggul menjadi bagian tubuh yang paling sering mengalami kerusakan sendi. Kondisi tersebut tak hanya memicu nyeri berkepanjangan, tetapi juga membatasi aktivitas harian penderitanya.
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Columbia Asia Hospital BSD, dr. Ferdinand Arden, Sp.OT, FICS mengatakan, nyeri sendi kronis dapat berdampak luas terhadap kualitas hidup pasien.
“Nyeri sendi kronis bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga dapat membatasi kualitas hidup seseorang,” ujar Ferdinand dalam keterangannya, Senin, 11 Mei.
Menurut dia, banyak pasien datang dengan keluhan nyeri yang sudah mengganggu mobilitas hingga aktivitas sederhana sehari-hari. Karena itu, penanganan gangguan sendi kini tidak hanya berfokus mengurangi rasa sakit, tetapi juga memulihkan fungsi gerak pasien.
Untuk menangani kondisi tersebut, Columbia Asia Hospital BSD memperkuat layanan ortopedi melalui teknologi arthroscopy minimal invasif hingga prosedur penggantian sendi seperti Total Knee Replacement (TKR) dan Total Hip Replacement (THR).
Teknologi arthroscopy digunakan untuk diagnosis sekaligus penanganan gangguan sendi melalui sayatan kecil. Metode ini dinilai dapat mempercepat pemulihan pasien dibanding tindakan bedah konvensional.
“Melalui prosedur seperti Total Knee Replacement dan Total Hip Replacement, kami berupaya membantu pasien kembali bergerak dengan nyaman dan menjalani aktivitas tanpa hambatan,” tutur dia.
Ferdinand menjelaskan, prosedur arthroscopy umumnya digunakan untuk menangani cedera pada lutut, bahu hingga pergelangan kaki. Penanganan minimal invasif juga membantu mengurangi nyeri pascaoperasi.
Sementara itu, tindakan TKR dan THR lebih banyak dilakukan pada pasien dengan kerusakan sendi berat akibat osteoarthritis maupun cedera degeneratif lainnya.
Layanan ortopedi tersebut turut didukung fasilitas rehabilitasi medis untuk membantu pasien memulihkan kemampuan gerak pascatindakan. Rumah sakit juga menilai penanganan gangguan sendi perlu dilakukan sejak dini agar pasien tetap dapat mempertahankan kualitas hidup dan kemandiriannya di usia lanjut.

